Rabu, 26 Oktober 2011

Kenalilah Faktor Penghambat Dalam Membuat Keputusan Yang Baik

Faktor-faktor penghambat yang harusa diatasi adalah sikap-sikap sbb :
a.   Meremehkan pertimbangan perasaan, karena faktor “mati rasa” yang telah berkembang di dalam diri seorang pemimpin. Emosional dan mati rasa, merupakan 2 sikap yang sangat merugikan.
b.   Takut menghadapi konflik dengan mengundurkan diri atau tidak bersiteguh dalam mempertahankan sikap karena tidak ingin diganggu oleh rasa cemas yang akan timbul sebagai akibat dari suatu keputusan.
c.    Rasa ragu-ragu, sehingga tidak mampu mendahulukan apa yang harus didahulukan atau yang dianggap terpenting.
d.   Ragu-ragu karena kurang percaya diri sebagai akibat rasa inferior (rasa rendah diri, rasa tidak layak, rasa tidak baik, dsb).
e.   Ragu-ragu karena oleh adanya tekanan psikologi berat (depresi).
f.     Ragu-ragu karena diganggu oleh pola berpikir yang sempit serta takut akan bayangan diri sendiri.
g.   Takut yang berlebihan untuk melukai perasaan orang lain dan rasa ketergantungan pada orang lain yang dianggap mampu.
h.   Digentarkan oleh rasa kecewa/kegagalan apabila keputusan yang dibuat ternyata keliru.
i.     Sikap perfeksionis dan rasa tidak yakin serta menganggap rendah orang lain sehingga bersikap takabur dan gegabah.
j.     Berpikir tidak realistis.
k.   Menganggap pendapat sendiri yang lebih benar dari pendapat orang lain sehingga bersikap tertutup.
Kunci dasar dalam membuat keputusan yang baik
a.   Memahami tujuan dan harapan yang akan dicapai
b.   Membuat prioritas dalam setiap keputusan dengan memilih prioritas yang tertinggi (utama) dengan memisahkan kepentingan yang sekunder dan tertier.
c.    Tidak terpengaruh oleh tekanan diri dan harus dalam kondisi sedang berpikiran jernih.

Kepemimpinan

Kepemimpinan (leadership) yang merupakan bagian dari manajemen adalah :
a.   Suatu teknik atau proses menggerakkan dan mempengaruhi orang lain, agar mereka bersedia melakukan sesuatu yang diyakini harus dilakukan (Goal Through Oders), atau
b.   Suatu proses memobilisasi orang lain untuk bekerja sama ke arah tujuan yang telah disepakati bersama antara pemimpin kepada bawahan.
Prosesnya ada 3 (tiga) unsur penting di dalam kepemimpinan, yaitu :
1  Adanya orang lain yang bersedia mengikuti perintah pemimpin.
2. Adanya pengaruh pemimpin kepada orang lain, yang selanjutnya menjadi pengikut.
3. Adanya kuasa atau wewenang pemimpin kepada bawahan.

Kuasa atau wewenang pemimpin, antara lain :
1.   Kuasa memberikan balas jasa terhadap apa yang dihasilkan bawahan.
2.   Kuasa memaksa atau kuasa memberikan dukungan.
3.   Kuasa formal berdasarkan ajaran atau hukum.
4.   Kuasa agar orang lain meniru pola perilaku atau kuasa panutan.
5.   Kuasa berdasarkan pengetahuan dan keahlian.

Umumnya orang yang jadi pemimpin mempunyai daya kepemimpinan dengan berbagai jalan, diantaranya :
1.   Menunjukkan karakteristik tertentu,
Misalnya: pandai, cerdas, percaya diri, dan berbicara lancar.
2.   Menunjukkan perilaku tertentu,
Misalnya: konsultatif, partisipatif, tegas, konsekuen, dan konsisten.





Rahasia Keberhasilan

Seorang usahawan yang sukses pernah ditanya tentang rahasia kesuksesan. Jawabannya meringkaskan sukses dalam tiga kata “dan kemudian beberapa”. Ia belajar lebih awal dalam hidup bahwa perbedaan antara orang yang pas-pasan dan orang yang benar-benar berhasil dapat dkatakan hanya dalam tiga kata itu. Orang yang paling berhasil melakukan apa yang diharapkan dan kemudian beberapa!
Teringat saya pada suatu perkataan “Majulah lebih jauh daripada apa yang diharapkan. Berjalanlah lebih jauh sedikit”.
Biarkan kata-kata dan kemudian beberapa menjadi obat penguat bagi semangatmu. Berilah dengan sikap dermawan dan ikhlas waktu dan kemampuanmu dan kemudian beberapa. Penuhilah kewajiban-kewajibanmu, jadilah orang yang dipercayai dan kemudian beberapa. Berusahalah sedapat mungkin dalam segala hal dan sepanjang ­masa dan kemudian beberapa.








Hidup Perlu Irama

Seorang profesor biologi yang sedang meneliti ketam (kepiting berkaki enam dan bersepit) menemukan sesuatu yang sangat menarik. Metabolisme mereka mempunyai irama yang dapat diukur dan dapat beradaptasi.
Ketam hidup di kolam-kolam pasang yang dangkal di sepanjang Samudera Atlantik. Ketika air pasang, mereka mendapat makanan. Ketika air surut, mereka beristirahat. Angka metabolisme mereka berhenti pada saat air pasang mencapai puncaknya, dan mereka tenang ketika air surut. Irama metabolisme ini tetap bertahan bahkan ketika ketam-ketam itu tertangkap dan ditempatkan ke dalam aquarium penelitian.
Sang profesor melakukan penelitian ini bergerak dari Pantai Timur hingga Chicago. Tentu saja, ia membawa serta ketam-ketam percobaannya. Mengejutkan sekali, ia menemukan bahwa irama hidup ketam-ketam itu disesuaikan dengan  gerakan. Hanya dalam beberapa hari, angka metabolisme mereka naik tepat pada jam air pasang akan mencapai Chicago.
Ajaran moralnya, ketam-ketam pun mempunyai cukup indera untuk mengenal bahwa hidup memerlukan suatu irama, ketika keadaan seseorang berubah, orang itu harus menyesuaikan diri. Setiap orang masih memerlukan waktu untuk bekerja dan waktu untuk beristirahat.







Rahasia Kehidupan

Seorang anak kecil berumur delapan tahun mendekati seorang laki-laki tua di depan sebuah sumur. Ia menatap mata laki-laki tua itu, dan berkata “Saya mengerti bahwa bapak adalah seorang laki-laki yang sangat bijaksana, saya ingin mengetahui rahasia kehidupan”.
Laki-laki tua itu menatap anak kecil itu dan menjawab “Saya telah merenung banyak sepanjang hidup saya, dan rahasia kehidupan itu dapat diringkaskan dalam empat kata.
Pertama adalah berpikir. Pikiran tentang nilai-nilai dengan mana engkau akan menghayati/menjalani hidupmu.
Kedua adalah percaya. Percayalah pada dirimu sendiri berdasarkan pikiranmu mengenai nilai-nilai yang akan engkau pakai untuk menghayati hidupmu.
Ketiga adalah mimpi. Bermimpilah tentang hal-hal yang mungkin, berdasarkan kepercayaanmu pada dirimu sendiri dan nilai-nilai yang akan engkau pakai untuk menghayati hidupmu.
Keempat adalah berani. Beranilah untuk membuat mimpi-mimpimu menjadi kenyataan, didasarkan pada kepercayaan pada dirimu sendiri dan nilai-nilaimu yang engkau anut.
Dengan itu ia berkata kepada anak kecil itu “Berpikir, Percaya, Mimpi, dan Berani”.











Jika Seorang Anak Hidup Dengan.....

Jika seorang anak hidup dengan kritik,
           Ia belajar mempersalahkan.
Jika seorang anak hidup dengan permusuhan,
          Ia belajar berkelahi.
Jika seorang anak hidup dengan ketakutan,
          Ia belajar menjadi gelisah.
Jika seorang anak hidup dengan belas kasihan,
          Ia belajar untuk merasa kasihan kepada dirinya sendiri.
Jika seorang anak hidup dengan kecemburuan,
          Ia belajar merasa bersalah.
Jika seorang anak hidup dengan keberanian,
          Ia belajar percaya diri.
Jika seorang anak hidup dengan toleransi,
          Ia belajar bersabar.
Jika seorang anak hidup dengan pujian,
          Ia belajar menghargai.
Jika seorang anak hidup dengan penerimaan,
          Ia belajar mencintai.
Jika seorang anak hidup dengan kejujuran,
          Ia mengerti apa itu kebenaran.
Jika seorang anak hidup dengan persahabatan,
          Ia belajar bahwa dunia adalah suatu tempat yang baik untuk hidup.





Apakah Engkau Mau Membantu Aku?

Pada tahun 1989 gempa bumi yang berkekuatan 8,2 Skala Richter hampir meratakan Armenia, dan telah membunuh lebih dari tiga puluh ribu orang dalam waktu kurang dari empat menit. Di tengah-tengah keadaan yang sama sekali hancur dan kacau balau, seorang  bapa meninggalkan istrinya dengan aman di rumah dan bergegas ke sekolah dimana anaknya berada. Di sana ia hanya menemukan bahwa gedung sekolah itu sama ratanya dengan tanah.
Setelah shock pada awal yang menimbulkan trauma, ia teringat akan janjinya kepada anaknya “Tidak peduli apapun yang terjadi, saya akan selalu berada di sampingmu”. Air mata mulai memenuhi matanya. Ketika memandang tumpukkan reruntuhan yang sebelumnya adalah gedung sekolah, anak itu kelihatannya tidak dapat tertolong lagi, tetapi ia mengingat janjinya kepada anaknya.
Ia mulai memusatkan ingatannya pada tempat ia mengantarkan anaknya ke kelas setiap pagi. Ketika ia mengingat bahwa ruang kelas anaknya terletak di sudut kanan belakang gedung itu, ia bergegas ke sana dan mulai menggali reruntuhan itu.
Pada saat ia sedang menggali, para orangtua lain yang juga sedih tiba ditempat itu, memegang dada mereka sambil berkata “Putraku ! Putriku !”. Para orangtua lain itu mencoba menarik dia dari antara reruntuhan itu sambil berkata “Sudah terlalu terlambat”
“ Mereka sudah meninggal”
          “ Engkau tidak dapat membantu”
                   “ Pulanglah”
         “ Mari, hadapilah kenyataan”
                   “ Engkau hanya akan memperburuk keadaan”
  Kepada setiap orangtua itu ia menjawab dengan satu perkataan “Apakah kamu mau menolong saya?”. Kemudian ia melanjutkan menggali batu demi batu untuk mencari anaknya.
Dengan penuh semangat ia terus menggali seorang diri karena ia perlu mengetahuinya sendiri “Apakah putraku masih hidup atau mati?” tanyanya. Ia meneriakkan nama putranya “Armand”. Ia mendengar jawaban “ayah”. Ini saya, ayah. Saya mengatakan kepada anak-anak yang lain jangan khawatir. Saya mengatakan kepada mereka bahwa jika engkau masih hidup, saya akan menyelamatkan engkau, dan ketika engkau menyelamatkan saya, mereka juga akan diselamatkan. Engkau berjanji “Tidak peduli apapun yang terjadi, saya akan selalu hadir di sampingmu. Engkau melakukan itu, ayah”.